Lewati navigasi

Jo and Me

Jo and Me

SEBERKAS FRAGMEN JOAN MC MILLAN

Jika setahun adalah semusim

Maka maka setahun itu seperti semusim jagung

Jika setahun adalah persahabatan

Alangkah sedihnya jika persahabatan harus dibatasi waktu


Jo, perempuan aussie itu

Seperti mempercepat waktu,

Karena dengan kelembutannya, kebersahajaannya, kesabarannnya mendengar

Dan ekpresinya yang jujur, membuat waktu seperti menguap ketika saatnya berpisah itu tiba

Sedihnya tak terungkap, kehilangannya tak terucap

Namun rasa itu berkeliaran dalam ujung pikiran

Matapun tak mampu untuk membahasakan


Joe, perempuan aussie itu

Memang akan pergi,

Tapi dia telah meninggalkan catatan

betapa indahnya sebuah persahabatan, humanisme, ketakterbatasan latar belakang

dan makna terdalam sebuah kesetiakawanan


Ah jo,

Aku merasa belum berbuat apa-apa untukmu,

Karena tiba-tiba saja kamu pergi, walau mungkin akan kembali

Namun yang pasti aku dan teman-teman disini merindukanmu

Cirebon, 08 November 2008

Oleh Erlinus Thahar

AWAL Juli 2008 kampanye partai peserta Pemilu 2009 telah dimulai. Ada 34 partai kontestan yang ditetapkan KPU dan 9 bulan rentang waktu kampanye. Walaupun dilaksanakan hanya dengan sosialisasi media dan kampanye tertutup, tak pelak kecemasan akan munculnya tindak kekerasan akibat dampak pemilu sudah diwanti-wanti sejumlah kalangan.

Paling tidak seperti itulah yang diucapkan Kepala Badan Intelkam Irjen Polisi Saleh Saaf sehabis rapat dengan KPU 2 Mei lalu.

Belajar dari Pemilu 2004 dan beberapa pilkada, potensi kekerasan akibat pesta dimokrasi ini tak terhindarkan. Konflik politik yang diciptakan oleh kalangan elit politik sengaja atau tidak sengaja kerap memunculkan konflik horizontal di kalangan akar rumput.

Yang terakhir, misalnya kasus Pilkada Maluku Utara yang melibatkan dua kandidat Abdul Gafur dan Syafrudin Fabanyo, kekerasan demi kekerasan muncul dari pendukung kedua belah pihak. Belum lama ini terjadi pembakaran rumah kediaman Abdul Gafur, ada 4 orang ditahan menjadi tersangka. Belum konflik-konflik lainnya.

Walaupun sejumlah daerah seperti Pilkada Jabar, Pilkada Bali, dan Pilkada Jawa Tengah cenderung lebih aman. Positifnya, bisa saja ini memang karena pemahaman masyarakat mulai meningkat tentang demokrasi atau bisa saja memang karena kesigapan aparat keamanan dalam hal deteksi dini.

Atau juga karena masyarakat udah tidak peduli dengan Pilkada, jika melihat angka golput yang kecenderungannya meningkat, berkisar 30-40 persen. Tengok saja Pilkada Jawa Tengah, sesungguhnya pemenangnya adalah golput 45, 25 persen! Lihat juga, sebagai perbandingan, golput di Pilkada Sumut 41 persen, Pilkada Jabar 32,6 persen.

Namun secara gairah Pilkada beda dengan Pemilu. Ketika Pilkada, biasanya mesin-mesin partai agak lamban bergerak, karena hanya mendukung satu paket konstituent individu, beda dengan pemilu yang banyak melibatkan banyak kontestan individu baik di tingkat DPRD Kota dan Kabupaten, DPRD Provinsi hingga DPR Pusat. Ketika pemilu, roda mesin partai biasanya lebih cepat berputar. Akibatnya gesekannya tentu lebih besar.

Hal itu juga diperparah dengan buruknya komunikasi politik para elit partai. Terakhir misalnya betapa perang urat syaraf soal tua muda calon presiden antara Ketua Umum PDIP Megawati dan Presiden PKS Tifatul Sembiring yang oleh banyak kalangan dianggap komunikasi tak bermutu, walau cukup memberi warna pula. Bahkan editorial koran Media Indonesia pada 23 Juli lalu melukiskan sebagai berikut.

“Wilayah politik Indonesia menjadi rumit karena ketidaktaatan dan ketidakpatutan yang dipertontonkan dengan sangat tidak tahu malu oleh para elite, karena itu, jadilah perpolitikan Indonesia sebagai praksis tanpa etika dan legalitas.”

Peran media juga tak kalah penting. Prinsip bad news is good news, suka atau tidak suka tak jarang ikut mengompori sebuah konflik, apalagi kalau medianya juga ikut membangun opini. Atas nama kebebasan pers, terkadang kita tak mampu membedakan mana berita yang memperbesar konflik mana berita yang mampu mencerdaskan masyarakat.

Rasanya Pemerintah didukung DPR tentunya sudah punya alasan jelas jika kemudian menganggarkan dana sebesar Rp2,4 triliun untuk pengamanan pemilu. Ada peningkatan 85 persen dibandingkan biaya pengamanan Pemilu 2004 sebanyak Rp1,3 triliun. Dari 2,4 triliun tersebut, Polri sebagai penanggung jawab mendapat Rp1,8 triliun dan TNI sebagai pendukung Rp600 miliar.

Anggaran sebesar itu tentunya belum menjamin pesta demokrasi kita ini terhindar dari konflik jika tidak didukung oleh kesadaran berpolitik masyarakat kita, agar tidak mudah terpancing dan terprovokasi oleh konflik-konflik yang dihembuskan elit partai, konflik pelangaran prosedur pemilu, atau konflik karena ketidaktegasan regulator pemilu itu sendiri (KPU, baik pusat maupun daerah).

Belum lagi banyaknya aksi kekerasan belakangan ini dengan berbagai latar motif, baik latar belakang agama, sosial dan ekonomi, selain politik tentunya, turut menambah kecemasan kita.

Namun kecemasan itu tak bisa ditanggapi dengan diam, lantas menyerahkan tanggung jawab itu semata kepada aparat keamanan. Sudah saatnya kita mengkonsolidasikan lembaga-lembaga komunitas yang netral di tingkat desa sebagai katalisator dan pendeteksian dini potensi kekerasan akibat pemilu, sementara polisi sebagai penanggung jawab keamanan pemilu, bisa menjadi fasilitator.

Apalagi polisi sudah memiliki gerakan perpolisian masyarakat dengan Skep. No 737/X/2005 yang mengedepankan partisipasi masyarakat secara mandiri dalam pengamanan lingkungan dan penanganan konflik sosial di tingkat desa melalui Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM)-nya, atau bisa saja dengan berbagai kekhasan lembaga masyarakat desa di daerah masing-masing.

Singkatnya, untuk pencegahan kekerasan akibat potensi konflik pemilu, perlu dihidupkan lagi forum-forum rembug warga yang bisa juga melibatkan unsur kepolisian di tingkat Babinkamtibmas misalnya.

Pemilu 2009, walau sebagian memandang pesimis, tetap menjadi harapan bagi rakyat untuk sebuah perbaikan. Tentunya kita tidak berharap pesta demokrasi rakyat ini justru mengakibatkan kekerasan pada rakyat itu sendiri, dan demokrasi menjadi kambing hitamnya.

Ditulis Oleh Erlinus Thahar
Tidak seperti biasanya, kali ini mitra COP (Polmas) The Asia Foundation dari Bali (Yayasan Manikaya Kauci), Surabaya (PUSHAM Unair), Yogyakarta (PUSHAM UII), Salatiga (Yayasan PERCIK) dan Cirebon Jawa Barat (Fahmina Institute) bertemu di Jakarta. Ada agenda penting tengah diusung. Mitra COP (Polmas), TAF. kali ini beriniat bertemu dengan Deputi Operasional (Deops) Irjen Pol Rubani Pranoto, di Gedung Utama Mabes Polri. Ini sebagai tindak lanjut pertemuan di Yogya 5/7/08 lalu, mengangkat tema pembaahasan mengenai peran perpolisian masyarakat (POLMAS) dalam hajat demokrasi kita, Pemilu 2009.
Setelah disosialisasikan beberapa tahun belakangan, kini saat yang tepat untuk membuktikan bahwa Polmas memiliki posisi penting dalam sistem keamanan kita. Khususnya pada saat menjelang Pemilu, yang tentu rentan dengan berbagai gesekan sosial, sebagai akibat kepentingan dan aktifitas politik di masyarakat.
Ketika terjadi gesekan, lalu muncul kekerasan, seperti biasa, yang jadi korban adalah masyarakat. Di Pemilu 2009 mendatang, indikasi demikian sudah muncul. Sekarang ini, di beberapa daerah, konflik masyarakat di tingkat bawah timbul sabagai akibat dari kepentingan dan kegiatan politik yang ada. Seperti Pilkada Maluku Utara (Malut) misalnya, hingga kini masih mnyisakan kekerasan, terakhir terjadi pembakaran rumah salah satu kandidatnya, dan 4 tersangka kini ditahan.
Apalagi berdasarkan keputusan Komite Pemilihan Umum (KPU), kampanye pemilu sudah mulai bulan Juni 2008 ini. Artinya berarti ada rentang waktu sembilan bulan kampanye. Meski masih berupa kampanye media dan tertutup, ancaman kekerasan tetap tidak berukrang. Paling tidak itu yang dikatakan oleh Kepala Badan Intelkam Saleh Saaf seusai rapat dengan KPU 2 Mei lalu.
Untuk mengantisipasi terjadinya kekerasan tersebut, pemerintah telah menganggarkan biaya pengamanan pemilu sebesar 2,4 triliun rupiah. Bila dibandingkan dengan pengamanan Pemilu 2004, sebesar 1,3 triliun rupiah, ada peningkatan sangat signifikan , 85 persen! Anggaran sebanyak itu, menimbang karena pengamanan Pemilu ditetapkan enjadi tanggungjawab Polri. Di mana, alokasinya 1,8 triliun untuk Polri, sisanya sebagai pendukung pengamanan sekitar 600 juta untuk TNI.
Sepertinya polisi cukup pe-de, tutur Gunanjar, direktur Manikaya Kauci Bali, mengomentasi besarnya anggaran pengamanan pemilu tersebut. Pertanyaan berikutnya adalah, apakah ada jaminan bahwa potensi konflik bisa dideteksi lebih dini, kemudian dicegah? Lagi-lagi ini hanya upaya. Anggaran sebesar itu sebenarnya tak berarti apa-apa jika Polri tidak memanfaatkan program perpolisian masyarakat (Polmas), yang mereka usung melalui Skep Polri 737/2005?
Kita belum melihat peran Polmas untuk Pengamanan Pemilu 2009, jelas Leopold Sudaryono, PO Program COP TAF. “Setidaknya Polmas belum dilihat berkontribusi oleh para petinggi Polri terkait pengamanan Pemilu 2009” katanya. Padahal konflik politik apapun yang terjadi di tingkat elit, juga berimbas di tingkat akar rumput, masyarakat bawah.
Sementara itu, Polmas melalui FKPM-nya yang selama ini berkiprah di tingkat desa, bergerak bersama masyarakat bawah. Alangkah lebih terasa manfaatnya jika kemudian Polri bisa melibatkan Polmas dan FKPM ini. Salah satunya dengan memanfaatkan upaya deteksi dini dan pemetaan potensi konflik dengan juga melibatkan masyarakat yang tergabng dalam FKPM.
Dengan memafaatkan salah satu kelebihan Polmas, Polri setidaknya bisa menjadi fasilitator, dan dengan melibatkan FKPM sebenarnya Polri telah mendorong rakyat untuk mengamankan pesta demokrasinya sendiri, yang mengedepankan unsur pastisipasi masyarakat.
Dalam hal ini anggaran 1,8 triliun diharapkan tidak untuk pengamanan pemilu saja, tetapi dialokasikan bagi pendidikan masyarakat dalam menerapkan sistem keamanan dan deteksi dini secara mandiri. Anggaran 1,8 triliun itu tidak hanya menjadi jaminan keamanan dari pemerintah, tetapi juga jaminan atas partisipasi penuh rakyat untuk mengamankan segala kegiatan pemilu.
Respon positif pun muncul dari Deops Polri Irjen Pol Rubani Pranoto ketika ditemui Mitra COP (Polmas) TAF. Dengan tegas ia menyatakan, “Kenapa tidak, Polmas adalah bagian strategis Polri untuk Pengamanan Pemilu 2009. Kita akan lihat seperti apa perannya,”
Itu artinya bahwa dengan Polmas kita bisa membangun kemitraan yang sinergis antara polisi dan masyarakat untuk membangun masyarakat yang demokratis. Partisipasi penuh Polmas di pengamanan pemilu 2009 taruhannya.[]

Baca Lebih Lanjut »

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.